Meneladani Kehidupan KH. Abdullah Faqih
Judul Buku : Potret dan
Teladan Syaikhina KH. Abdullah Faqih
Penyunting : Muhammad Hasyim dan Muhammad Sholeh
Editor : Ahmad Atoillah
Penerbit : Kakilangit Book
Tebal : 248 Halaman
Tahun : 2012
Resentator : Elin Mufashilah
Buku yang berjudul Potret dan Teladan Syaikhina K.H. Abdullah Faqih
ini diberikan untuk kado 21 hari setelah wafatnya Syaikhina KH. Abdullah Faqih.
Buku ini berisi tentang profil singkat beliau, mutiara pemikiran, Syaikhina di
mata keluarga dan foto-foto semasa beliau masih hidup hingga meninggal dunia.
Syaikhina KH. Abdullah Faqih lahir dari pasangan suami istri Kyai
Rofii dan Nyai Khodijah, beliau mempunyai 2 saudara, yaitu Khozin dan Hamim.
Masa kecil beliau seperti masa kecil anak seumurannya. Ayah beliau meninggal
dunia saat beliau masih kecil ketika berusia tujuh atau delapan tahun. Dan
ibunya, Nyai Khodijah dinikah oleh K.H. Abdul Hadi Zahid. Semenjak itulah K.H.
Abdul Hadi Zahid yang mengarahkan kehidupan, mulai mondok hingga berkeluarga.
Syaikhina K.H. Abdullah Faqih hanya menuntut ilmu di pesantren
selama 4 tahun. Beliau tidak hanya menetap di satu tempat tapi
berpindah-pindah. Selama menuntut ilmu ayahanda beliau tidak memberikan uang
saku yang lebih. Meskipun, mampu untuk memberikan lebih. Kondisi tersebut
diterima dengan ikhlas oleh beliau. Karena, termasuk pembelajaran kesederhanaan
dalam mengarungi kehidupan. Cara tersebut juga diterapkan beliau dalam mendidik
putera-puteranya.
Saat menuntut ilmu di Lasem, Syaikhina di pinang oleh KH. Makshum.
Mengetahui lamaran tersebut, beliau tidak langsung bersedia. Beliau sempat
pulang ke Langitan. Sesampainya, beliau mendapat nasihat dari ayahanda KH.
Abdul Hadi Zahid untuk mengikuti petunjuk Kyainya. Setelah kembali ke Langitan
dengan membawa keluarga, Syaikhina langsung ikut mengabdi ke pesantren.
Setelah meninggalnya ayahanda, Syaikhina menerima amanat yang berat
yaitu meneruskan pesantren. Saat itu kepengasuhan ditangani oleh dua kyai,
yaitu beliau dan KH. Ahmad Marzuqi, sang paman. Syaikhina KH. Abdullah Faqih
adalah Kyai yang anti kekerasan. Menurut beliau tindakan-tindakan pengeboman
bunuh diri yang menamakan jihad itu termasuk hal yang salah. Karena,
tindakan-tindakan semacam itu hanya akan menguatkan citra bahwa islam adalah
agama kekerasan.
Sudah sunnatullah, semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin
melemah pula fungsi tubuh. Di usia Syaikhina yang ke-80 tahun, kondisinya
melemah apalagi beliau mempunyai aktifitas yang luar biasa padat, berjamaah
lima waktu beserta aurad bersama santri, mengajar kitab, menerima tamu setiap
hari, menghadiri undangan-undangan dan lain sebagainya. Pada hari Rabu tepatnya
tanggal 29 Februari 2012 usai salat maghrib sekitar pukul 18.30 WIB. Syaikhina menghembuskan
nafas yang terakhir.
Bumi berduka karena, perginya ulama
penuh kharisma meninggalkan jutaan umat. Beliau dimakamkan pada pukul 12.30
WIB. Hari Kamis, 1 Maret 2012. Sepanjang 5 kilometer jalan pantura macet dalam
prosesi pemakaman. Suasana histeris ketika keranda tidak mampu berjalan saat
memasuki kawasan pemakaman.
Selain profil singkat Syakhina
penulis juga mengemukakan mutiara pemikiran yang ada 41 bab yang sangat
bermafaat dan juga dilengkapi dengan hadist-hadits yang shahih. Selain itu, ada
pendapat dari keluarga untuk Syaikhina K.H. Abdullah Faqih yang ditulis
dihalaman 189-233. Dan untuk melengkapi buku ini penulis juga menyertakan
foto-foto beliau semasa beliau hidup sampai meninggal dunia.
Kelebihan buku ini adalah sampul buku yang menghadirkan foto
Syaikhina KH. Abdullah Faqih sehingga menarik perhatian untuk dibeli. Selain
itu, di sampul belakang di hadirkan pendapat-pendapat orang-orang hebat seperti
KH. Idris Mazuqi (Pengasuh PP. Lirboyo Kediri), KH. Dr. Musthofa Bisri
(Pengasuh PP. Raudlotul Thalibin Rem,bang), KH. Dr. Hasyim Muzadi (Sekjen
Internasional Conference of Islamic Scolars dan Mantan Ketua Tahfidziyyah
PBNU), Habibi Mudzir Al-Musawa (Pimpinan Majlis Rosulillah Jakarata, Khofifah
Indar Parawansa (Ketua PP. Muslimat NU), Dahlan Iskan (Menteri BUMN RI), dan
Dr. Soekarwo (Gubernur Jawa Timur) untuk Syaikhina KH. Abdullah Faqih.
Kelemahan buku ini, salah satunya adalah foto-foto yang dihadirkan itu hitam
putih.
Buku ini sangat bermanfaat bagi santri yang masih bermukim di
pondok atau yang sudah ada di rumah, buku ini mengajarkan hal kesederhanaan
dalam hidup. Dan juga bisa meneladani kisah Kyai besar yang ada di Jawa Timur.
Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.