Rabu, 30 November 2016

Meneladani Kehidupan K.H Abdullah Faqih



Meneladani Kehidupan KH. Abdullah Faqih
Judul Buku     : Potret dan Teladan Syaikhina KH. Abdullah Faqih
Penyunting      : Muhammad Hasyim dan Muhammad Sholeh
Editor              : Ahmad Atoillah
Penerbit           : Kakilangit Book
Tebal               : 248 Halaman
Tahun              : 2012
Resentator       : Elin Mufashilah
Buku yang berjudul Potret dan Teladan Syaikhina K.H. Abdullah Faqih ini diberikan untuk kado 21 hari setelah wafatnya Syaikhina KH. Abdullah Faqih. Buku ini berisi tentang profil singkat beliau, mutiara pemikiran, Syaikhina di mata keluarga dan foto-foto semasa beliau masih hidup hingga meninggal dunia.
Syaikhina KH. Abdullah Faqih lahir dari pasangan suami istri Kyai Rofii dan Nyai Khodijah, beliau mempunyai 2 saudara, yaitu Khozin dan Hamim. Masa kecil beliau seperti masa kecil anak seumurannya. Ayah beliau meninggal dunia saat beliau masih kecil ketika berusia tujuh atau delapan tahun. Dan ibunya, Nyai Khodijah dinikah oleh K.H. Abdul Hadi Zahid. Semenjak itulah K.H. Abdul Hadi Zahid yang mengarahkan kehidupan, mulai mondok hingga berkeluarga.
Syaikhina K.H. Abdullah Faqih hanya menuntut ilmu di pesantren selama 4 tahun. Beliau tidak hanya menetap di satu tempat tapi berpindah-pindah. Selama menuntut ilmu ayahanda beliau tidak memberikan uang saku yang lebih. Meskipun, mampu untuk memberikan lebih. Kondisi tersebut diterima dengan ikhlas oleh beliau. Karena, termasuk pembelajaran kesederhanaan dalam mengarungi kehidupan. Cara tersebut juga diterapkan beliau dalam mendidik putera-puteranya.
Saat menuntut ilmu di Lasem, Syaikhina di pinang oleh KH. Makshum. Mengetahui lamaran tersebut, beliau tidak langsung bersedia. Beliau sempat pulang ke Langitan. Sesampainya, beliau mendapat nasihat dari ayahanda KH. Abdul Hadi Zahid untuk mengikuti petunjuk Kyainya. Setelah kembali ke Langitan dengan membawa keluarga, Syaikhina langsung ikut mengabdi ke pesantren.
Setelah meninggalnya ayahanda, Syaikhina menerima amanat yang berat yaitu meneruskan pesantren. Saat itu kepengasuhan ditangani oleh dua kyai, yaitu beliau dan KH. Ahmad Marzuqi, sang paman. Syaikhina KH. Abdullah Faqih adalah Kyai yang anti kekerasan. Menurut beliau tindakan-tindakan pengeboman bunuh diri yang menamakan jihad itu termasuk hal yang salah. Karena, tindakan-tindakan semacam itu hanya akan menguatkan citra bahwa islam adalah agama kekerasan.
Sudah sunnatullah, semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin melemah pula fungsi tubuh. Di usia Syaikhina yang ke-80 tahun, kondisinya melemah apalagi beliau mempunyai aktifitas yang luar biasa padat, berjamaah lima waktu beserta aurad bersama santri, mengajar kitab, menerima tamu setiap hari, menghadiri undangan-undangan dan lain sebagainya. Pada hari Rabu tepatnya tanggal 29 Februari 2012 usai salat maghrib sekitar pukul 18.30 WIB. Syaikhina menghembuskan nafas yang terakhir.
Bumi berduka karena, perginya ulama penuh kharisma meninggalkan jutaan umat. Beliau dimakamkan pada pukul 12.30 WIB. Hari Kamis, 1 Maret 2012. Sepanjang 5 kilometer jalan pantura macet dalam prosesi pemakaman. Suasana histeris ketika keranda tidak mampu berjalan saat memasuki kawasan pemakaman.
Selain profil singkat Syakhina penulis juga mengemukakan mutiara pemikiran yang ada 41 bab yang sangat bermafaat dan juga dilengkapi dengan hadist-hadits yang shahih. Selain itu, ada pendapat dari keluarga untuk Syaikhina K.H. Abdullah Faqih yang ditulis dihalaman 189-233. Dan untuk melengkapi buku ini penulis juga menyertakan foto-foto beliau semasa beliau hidup sampai meninggal dunia.
Kelebihan buku ini adalah sampul buku yang menghadirkan foto Syaikhina KH. Abdullah Faqih sehingga menarik perhatian untuk dibeli. Selain itu, di sampul belakang di hadirkan pendapat-pendapat orang-orang hebat seperti KH. Idris Mazuqi (Pengasuh PP. Lirboyo Kediri), KH. Dr. Musthofa Bisri (Pengasuh PP. Raudlotul Thalibin Rem,bang), KH. Dr. Hasyim Muzadi (Sekjen Internasional Conference of Islamic Scolars dan Mantan Ketua Tahfidziyyah PBNU), Habibi Mudzir Al-Musawa (Pimpinan Majlis Rosulillah Jakarata, Khofifah Indar Parawansa (Ketua PP. Muslimat NU), Dahlan Iskan (Menteri BUMN RI), dan Dr. Soekarwo (Gubernur Jawa Timur) untuk Syaikhina KH. Abdullah Faqih. Kelemahan buku ini, salah satunya adalah foto-foto yang dihadirkan itu hitam putih.
Buku ini sangat bermanfaat bagi santri yang masih bermukim di pondok atau yang sudah ada di rumah, buku ini mengajarkan hal kesederhanaan dalam hidup. Dan juga bisa meneladani kisah Kyai besar yang ada di Jawa Timur. 

Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.